Fungsi Green Coke untuk industri yang lebih ramah lingkungan

Minggu, 17 Maret 2024
Fungsi green coke

Menurut laporan terbaru dari Badan Energi Internasional, Asia Tenggara akan menjadi pusat perhatian dalam tren energi global selama dua dekade mendatang. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan ini telah menggiring permintaan energi meningkat secara signifikan, menjadikannya dua kali lipat lebih cepat daripada pertumbuhan rata-rata global. Namun, tantangan yang dihadapi oleh pembuat kebijakan tidak bisa diabaikan.

Permintaan Energi dan Impor Minyak

Peningkatan permintaan energi, terutama untuk bahan bakar fosil seperti minyak bumi, telah mengubah negara-negara ASEAN menjadi neto pengimpor minyak. Proyeksi menunjukkan bahwa defisit perdagangan energi mereka bisa mencapai USD 300 miliar pada tahun 2040 tanpa perubahan kebijakan impor minyak yang signifikan. Kondisi ini meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga minyak yang tidak stabil dan peristiwa geopolitik di tingkat global.

Potensi Limbah Minyak: Green Coke

Dalam konteks ini, limbah minyak seperti green coke sebagai produk sampingan dari proses penyulingan minyak mentah, muncul sebagai fokus perhatian baru. Green coke memiliki nilai kalor yang tinggi dan menghasilkan polusi yang lebih sedikit daripada batu bara, namun sering kali dijual dengan harga yang rendah, sekitar USD 0,17/kg.

Namun, potensi green coke tidak hanya terbatas pada harga jualnya yang rendah. Melalui proses yang tepat, limbah ini dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi, seperti karbon aktif. Karbon aktif memiliki berbagai aplikasi, termasuk pengolahan air limbah, pemurnian udara, dan bahkan kosmetik. Dengan harga pasar mencapai USD 5/kg, nilai karbon aktif jauh melampaui harga green coke.

Prospek dan Penelitian Green Coke

Penelitian tentang pengolahan green coke menjadi karbon aktif telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dengan memanfaatkan reaksi kimia dan fisik, karbon aktif dengan luas permukaan yang besar dapat diproduksi dari green coke. Massa rata-rata karbon aktif yang dihasilkan dari green coke juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan limbah pertanian tradisional.

Implikasi Ekonomi dan Lingkungan

Pendirian industri karbon aktif berbasis green coke dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat ekonomi negara-negara di Asia Tenggara. Selain itu, penggunaan limbah minyak untuk tujuan yang lebih bernilai juga dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia yang seringkali terjadi akibat pembakaran kokas petroleum.

Kesimpulan

Saat ini, PT Pertamina (Persero), sebuah perusahaan minyak dan gas milik negara di Indonesia, sudah memiliki unit produksi Green Petroleum Coke (GPC) di Kilang Minyak Dumai dengan kapasitas produksi 360 ribu ton per tahun. Green coke yang dihasilkan saat ini dijual apa adanya dapat 'ditingkatkan' menjadi karbon aktif, yang dapat meningkatkan potensi pendapatan Pertamina.

Studi-studi serupa yang berfokus pada peningkatan nilai limbah dan produk sampingan telah dilakukan oleh para peneliti di Asia Tenggara. Beberapa di antaranya bahkan telah siap untuk memasuki pasar dan diimplementasikan dalam industri. Pendirian industri karbon aktif berbasis limbah Green Coke memiliki potensi besar untuk memperkuat kondisi ekonomi negara-negara di Asia Tenggara. Selain itu, pemanfaatan limbah industri minyak bumi dapat membantu mengurangi dampak kesehatan manusia dan lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembakaran kokas petroleum. Dampak ini termasuk emisi debu fugitif dan gas rumah kaca, serta polusi yang dapat mengalir ke dalam saluran air.

Dengan potensi untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi dampak lingkungan, pengolahan limbah minyak menjadi produk bernilai seperti karbon aktif menawarkan peluang yang menarik bagi negara-negara di Asia Tenggara. Diperlukan kerjasama antara pemerintah, industri, dan lembaga penelitian untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi ini, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.